Showing posts with label Wisata Religi. Show all posts
Showing posts with label Wisata Religi. Show all posts

Tuesday, December 27, 2016

Goa Gurba Gianyar – Wisata Bali Seru


Wisata di Pulau Bali sangat diminati banyak orang, memang sudah dari dulu daerah ini sangat di idam-idamkan sebagai tempat favorit berlibur. Selain terkenal dengan bangunan candi dan pura, Bali juga memiliki obyek wisata goa. Goa Gurba yang berada di Kabupaten Gianyar ini merupakan salah satu dari situs peninggalan purbakala yang mempunyai nilai berharga.
Pembangunan Goa Gurba  dilakukan sekitar abad ke-12 Masehi yakni pada masa pemerintahan Raja Jayapangus dan lokasinya tepat berada di bawah Pura Agung Pengukur-ukuran. Goa ini merupakan sebuah ceruk pertapaan yang dipahat pada tebing jurang Sungai Pakerisan. Konon yang menggunakan Goa Gurba untuk tempat meditasi pertapaan adalah Patih Kebo Iwa.

Suasana dikawasaan obyek wisata Goa Gurba sangat damai dengan penuh ketenangan, alamnya juga  masih asri hlo, jadi bagi anda yang bermaksut ingin menenangkan diri dan pikiran, berlibur ketempat ini menjadi pilihan yang sangat cocok. Untuk bisa sampai kelokasi Goa Gurba yang tak lain ialah cagar budaya, kalian harus turun melewati gapura dan kemudian menuruni tangga batu.

Dari tangga ini anda sudah bisa mendapati keunikan yakni berupa telapak kaki, usut punya usut telapak kaki tersebut milik dari Patih Kebo Iwa. Diatas Goa Gurba ada beberapa buah kolam dan pancuran yang tepat sisi kolam tersebut ada sebuah lobang untuk menuju ke goa. Lobang inilah yang biasanya digunakan oleh para wisatawan untuk masuk ke dalam Goa Gurba.

Kebersihan Goa Garba selalu terjaga dengan tatanan yang selalu rapi, hal ini dikarenakan ada petugas kebersihan yang selalu merawat keberadannya. Bentuk dari pada Ceruk pertapaan ini bisa dibilang sangat unik dan indah, tentunya sangat disayangkan jika pembaca berada di Kabupaten Gianyar tidak mengunjunginya.

Lokasi Goa Gurba berada di Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, Indonesia.


Yuk Sob, baca obyek wisata menarik lainnya yang berada di Kabupaten Gianyar lainnya dibawah ini :

Puri Agung Gianyar – Info Wisata Bali



Pura Gunung Kawi Sebatu – Wisata Menyenangkan di Bali


Keindahan alam di Pulau Balisangat mempesona, pembaca pasti enggan untuk cepat-cepat pulang ketika sedang melakukan aktivitas liburan disini. Anda sekarang berada di Kabupaten Gianyar atau baru akan merencakan liburan didaerah ini ? Ada satu obyek wisata yang menarik untuk dikunjungii yakni Pura Gunung Kawi Sebatu.

Obyek wisata ini menawarkan akan keindahan sebuah pura Hindu berciri khas bangunan Bali. Dari banyaknya info yang dikumpulkan belum diketakui secara pasti kapan dibangunnya Pura Gunung Kawi Sebatu ini. Tetapi menurut sejarahnya bahwa Pura Gunung Kawi Sebatu didirikan untuk tempat pemujaan Dewa Wisnu atas perintah Rishi Markandeya.

Orang yang disebut Rishi Markandeya adalah seorang guru ( Maharishi ) yang menyebarkan agama Hindu dari Pulau Jawa. Dari petunjuk inilah bahwa pembangunan Pura Gunung Kawi Sebatu dapat diperkirakan antara 1300AD - 1500AD. Maharishi Markandeya ialah orang dari Kerajaan Majapahit yang dulunya memberi pengaruh di Nusantara dan tak luput dengan kerajaan Bali juga.

Di dalam kawasan Pura Gunung Kawi Sebatu memiliki sebuah pemandian umum yang mana kolam beserta pancuran di bagian kanan kompleks pura. Kolam pemandian ini bisa dikatakan cukup luas dengan kondisi air yang sangat jernih dan menyegarkan. Selain itu suasana disini sangat nyaman yang berada jauh dari keramaian kota.

Jadi sangat cocok dijadikan sebagai tempat rekreasi sekaligus merefresh dari kesibukan sehari-hari, apalagi bersama keluarga pastinya sangat menyenangkan sekali. Oh iya Guys, terdapat pula sebuah kolam besar di halaman pura dimana kolam ini berisi ikan koi berbagai jenis dan ukuran. Perlu diperhatikan ya, siapau dilarang untuk menangkap ikan di kolam ini karena dikeramatkan.

Ditengah halaman diluar pura utama terdapat sebuah aula terbuka, tempat ini adalah tempat untuk rapat oleh penduduk Desa Sebatu. Fungsi lainnya bisa digunakan untuk tempat istirahat bagi pengunjung sembari menikmati segala keindahan maupun suasana yang tersaji didalamnya.

Alamat Pura Gunung Kawi Sebatuberada di Jl. Raya Biyad, Tegallalang, Desa Sebatu, Kabupaten Gianyar, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, Indonesia.


Di bawah ini adalah obyek wisata di Kabupaten Gianyar yang tak kalah menariknya, yuk baca !!!

Pura Gaduh – Wisata Tenang & Jauh Dari Keramaian Kota



Monday, December 26, 2016

Pura Gaduh – Wisata Tenang & Jauh Dari Keramaian Kota


Hay Travelers, apakah anda sedang mencari obyek wisata di Pulau Bali yang menyenangkan sekaligus bisa merefresh diri dari kejenuhan hiruk piruk keramaian kota ? memang ya Guys, terkadang kita merasa bosan dengan suasana kota yang identik dengan kesibukan, walaupun nyatanya banyak fasilitas yang sangat lengkap.

Khus bagi pembaca yang ingin mendapatkan pengalaman liburan lain dari pada yang lain tak ada salahnya jika mengunjungi Pura Gaduh. Katanya jauh dari keramaian kota ? Tak seperti namanya, Pura Gaduh berlokasi di daerah yang tenang dan hening walaupun nyatanya keberadaannya tepat di sisi jalan utama.

Pura ini merupakan tempat ibadat umat Hindu yang bisa dibilang kuno, karena Pura Gaduh adalah bangunan warisan dari nenek moyang dan hingga detik ini masih dirawat dan masih dilestarikan keberadaannya oleh masyarakat sekitar. Pura Gaduh merupakan bagian dari Pura Kahyangan Jagat dan juga bagian dari salah satu kompleks pura yang ada di lingkungan tersebut.
Bangunan pura yang ada didalam kawasan kopleks ini diantaranya Pura Gedong Puseh, Pura Kuru Baya serta Pura Batur Sari. Letak dari pada Pura Gaduh berada tepat di halaman barat Pura Puseh dan sebelah timur Pura Kuru Bayu. Nah jika pembaca menanyakan tentang keunikan Pura Gaduh, yakni terletak pada keberadaan sebuah arca yang cukup menyeramkan.

Arca menyeramkan ini bernama “Kepal Kebo Iwa” dengan spectifikasi mata melotot, kuping lebar, rambut gimbal dan juga gigi taringnya yang menyembul keluar seperti halnya siluman buto ijo. Sebagian besar masyarakat setempat percaya bahawa perwujudan dari wajah Kebo Iwa tersebut memiliki nilai filosofi yakni perbuatan baik dan buruk berasal dari kepala.

Dari penelitian yang sudah dilakukan, belum dapat membuktikan secara pasti tentang kapan dibangunnya Pura Gaduh ini. Usut punya usut dari berbagai sumber menyebutkan, kalau Pura Gaduh merupakan tempat suci peninggalan Raja Patih Sri Jayakatong yang memerintah sejak Tahun Saka 1214 hingga 1302 Masehi.

Setelah itu pemerintahannya diteruskan oleh Raja-Raja  Bali lainnya, diantaranya adalah sebagai berikut Raja Sri Jayasunu - Raja Sri Masula-Masuli - Raja Sri Antasura Ratna Bumi Banten dan keturunan Sri Karang Buncing yang ada saat ini.

Alamat Pura Gaduh berada di Jalan Kebo Iwa, Desa Blahbatu, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, Indonesia.

Guys, dibawah ini ada sederet obyek wisata di Kabupaten Giayar yang mungkin bisa anda jadikan agenda wisata berikutnya :

Pura Samuan Tiga Gianyar ( Pura Penataran ) - Wisata Sejarah



Saturday, December 24, 2016

Pura Samuan Tiga Gianyar ( Pura Penataran ) - Wisata Sejarah


Kabupaten Gianyar, Bali memiliki banyak sekali obyek wisata yang menarik dan salah stunya yang tak boleh anda lewatkan ketika berada dikawasannya adalah Pura Samuan Tiga. Tempat wisata ini tepat berada di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, provinsi Bali, Indonesia. Menurut sejarahnya, bahwa Pura Samuan Tiga ialah sebagai tempat memuja kekuatan alam oleh nenek moyang masyarakat setempat.

Maka dari itu pura ini tergolong banguanan yang sudah tua, dari informasi yang didapatkan mengatakan dibangun pada masa pra-sejarah. Dalam prosesnya melewati perjalanan sejarah yang begitu panjang jadi tak menutup kemungkinan ada sebagaian dari informasinya yang belum terpecahkan.

Dirilis dari salah satu halaman dalam lontar Tatwa Siwa Purana, bahwa pembangunan Pura Samuan Tiga dilaksanakan pada masa pemerintahan Prabu Candra Sangka sekaligus membangun pura Penataran sasih dan ilen-ilen ( hiburan ) tarkala piodalan, mulai dari nampiyog nganten, sanghyang jaran nglamuk beha ( menginjak bara ), mapalengkungan siyat pajeng, pendet dan siyat sampian yang memiliki tujuan untuk menghilangkan sehananing leteh dan juga membersihkan diri.

Setelah diteliti lebih lanjut nama dari Prabu Candra Sangka tidak ada dalam sejarah pada saat raja-raja yang ada di Bali. Tetai  ada pada Candrabhayasingha Warmadewa yang tertulis didalam prasasti di Pura Sakenan Manukaya Tampak Siring, yang mana berisikan tentang sejarah pembuatan pemandian tirta di Air Hampul atau populernya dengan sebutan Tirta Empul.

Sumber-sumber informasi tentang sejarah tersebut tentunya sangat penting untuk mengetahui lebih akurat akan sejarah-sejarah pura yang dibangun di seluruh pelosok Pulau Bali. Ini dikarenakan setiap berdirinya pura tertentu pasti ada sejarahnya, prasasti maupun purana yang mencatat tentang asal muasal ceritanya.

Jikalau yang dimaksud dalam lontar Tatwa Siwa Purana tersebut tak lain ialah Candra Bhayasingha Warmadewa tau nama lain dari Prabu Candra Sangk, maka dapat dipastikan pebangunan Pura Samuan Tiga ini sejaman dengan pembuatan Tirta Empul yang tak lain dibangun atau dibuat pada abad ke-10.

Semasa itu dibangunla Pura Gunung ( Pura Tirta Empul di Tampaksiring ), oh iya Guys Pura Penataran adalah nama lain dari Pura Samuan Tiga, dan yang satunya lagi dibangunlah pura yang bernama Pura Segara. Kelebihan dari Pura Samuan Tiga ini berlokasi dilingkungan pedesaan yang mana memiliki nuansa alam yang masih sangat asri dan alami.

Pura Samuan Tiga atau Pura Penataran merupakan situs cagar budaya, sehingga sanagat cocok bagi anda yang menyukai  wisata yang berbau wisata sejarah. Selama di kawasannya anda akan di suguhi dengan udara nan begitu sejauk, jadi berlama-lama berwisata disini adalah kegiatan yang sering dilakukan oleh pengunjungnya.

Didalam kawasan Pura Samuan Tiga mempunyai 7 mandala atau halaman dengan ketinggian yang berbeda-beda, nama dari ke-7 halaman tersebut adalah Mandala Jaba, Penataran Agung, Duur Delod, Beten Kangin, Batan Manggis, Samenggen serta Mandala Jeroan.

Lokasi Pura Samuan Tiga berada di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, Indonesia.


Dibawah ini masih ada banyak lagi obyek wisata yang pastinya menyenangkan untuk anda kunjungi, yakni masih berada di kabupaten Gianyar tentunya. Yuk Guys baca selengkapnya :

Goa Gajah Gianyar - Wisata Unik & Menarik

Goa Gajah Gianyar - Wisata Unik & Menarik

Plesir sampai puas yuk obyek wisata di Pulau Bali, salah satunya yang sayang dilewatkan ialah Goa Gajah yang berada di Kabupaten Gianyar ini. Goa Gajah adalah salah satu dari banyaknya pura tertua dan bersejarah yang menjadi simbol dan saksi perkembangan peradaban masyarakat Hindu dan Budha di pulau Bali.

Di namai dengan sebutan Goa gajah tak lain ialah di salah satu kompleks pura terdapat sebuah goa dengan ukiran besar di pintu masuknya yang berupa gajah. Sejarah mengatakan bahwa Pura Gajah belum ada yang tahu secara jelas tentang kapan didirikannya bangunan ini, tetapi menurut catatan kerajaan Majapahit ( tahun 1365 AD ) diklaim pura ini dibangun oleh kerajaan Bedahulu pada abad ke 11 AD.

kerajaan Bedahulu merupakan kerajaan di Bali sebelum tersentuh dengan pengaruh budaya kerajaan Majapahit. Selain itu Pura Goa Gajah dulunya juga digunakan sebagai tempat pemujaan oleh dua agama sekaligus ( Hindu dan Buddha / Siwa-Budha ). Dengan berjalannya waktu popularitas agama Budha meredup dan Pura Goa Gajah tetap digunakan umat Hindu.

Kompleks Pura Goa Gajah dikategirikan sebagai sebuah situs arkeolog yang mana pada bagian halaman pura banyak ditemukan potongan-potongan arca dan candi yang belum selesai dibangun. Saat pembaca berwisata ke sini, anda tidak hanya melihat Goa besar saja namun ada pancuran air dari beberapa arca, air tersebut dari pertemuan dua mata air ( air suci ).

Juga ada sebuah arca dewa Ganesha ( berwajah Gajah ), pada sudut lainnya terdapat reruntuhan bekas candi bercorak Buddha yang dipahat pada bebatuan cadas. Kata Goa Gajah ini diduga berasal dari kata “Lwa Gajah”, dengan artinya wihara tempat pemujaan para Bhiksu. Menurut lontar Negarakertagama yang disusun pada tahun 1365 M oleh Mpu Prapanca, juga terdapat kata tersebut.

Sementara kata “Lwa“ memiliki arti sungai, jadi kesimpulan dari kedua kata tersebut ialah pertapaan yang terletak di tepi sungai. Oh iya Guys,  setelah anda sampai di areal parkir kemudian berlanjut menuruni tangga untuk bisa sampai ke Pura Goa Gajah. Kawasan wisata ini dikelilingi pepohonan hijau yang rindang, sehingga suasananya sangat nyaman sekali.

Usut punya usut dari petugas penjaga, usia pepohonan tersebut sudah berusia ratusan tahun. Jika pembaca ingin melihat komplek Pura Goa Gajah secara keseluruhan dapat melihatnya dari tangga. Nah, ketika sampai di bawah kalian akan mendengar gemericik suara air yang mengalir dari pancuran arca.

Sesampainnya sampai di mulut goa yang ukurannya terbilang kecil, sehingga agar bisa memasukinya harus mengantri satu per satu. Ruangan di dalam goa berbentuk huruf T yang mana berketinggian 2 meter dan lebar 2 meter. Ruangan kanan dan kiri lorong dapat dilihat ceruk yang dahulunya digunakan sebagai tempat bertapa.

Di bagian ujung barat lorong terdapat Arca Ganesha sementara pada ujung timur lorong terdapat 3 lingga. Guys selain itu disekitar goa, juga ada juga hlo patung petirtaan dengan tujuh patung widyadara–widyadari yang sedang memegang air suci. Suasana di obyek wisata ini sangat damai dengan didominasi dengan arsitektur yang klasik khas era kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha terdahuu.

Siapapun boleh untuk memasukinya, tetapi diingat ya bagi anda yang lagi datang bulan tidak diperbolehkan hlo. Hal ini dikarenakan untuk menjaga kesucian dari pada pura itu sendiri

Pura Goa Gajah berada di bagian barat Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, idonesia.


Oke lanjutin lagi yuk berwisata di Kabupaten Gianyar, wisata yang tak kalah seru lihat di bawah ini :

Puri Agung Gianyar – Info Wisata Bali



Thursday, December 22, 2016

Pariwisata di Kabupaten Buleleng Terlengkap – Wisata Bali


Dari sebagian sesar pembaca pastinya sudah tahu bahwa Kabupaten Buleleng merupakan sebuah kabupaten yang berada di kawasan Provinsi Bali, Indonesia yang Ibu kotanya adalah Singaraja. Sebelah utara kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah barat dengan Kabupaten Jembrana, sebelah timur dengan Kabupaten Karangasemdi dan Kabupaten Bangli, dan di sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Tabanan serta Kabupaten Badung.

Sementara panjang ruas bibir pantai di Kabupaten Buleleng sekitar 144 km, yang mana 19 km-nya melewati Kecamatan Tejakula. Nah, jika anda sekarang berada di kawasannya tak salah untuk mengekslor berbagai pariwisata yang ditawarkannya dengan segala keunikan dan keseruan dimasing-masingnya hlo Guys.

Atau anda lagi merencanakan unuk melakukan kegiatan berliburdi Kabupaten Buleleng ? Tenang saja, dihalaman ini tentunya sangat pas dengan yang anda harapkan. Tanya Kenapa ? karena dihalaman ini anda bisa mendapatkan informasi obyek wisata yang bisa dijadikan perbekalan sewaktu melakukan liburan.

Tentunya sebelum lerrlibur alangkah baiknya mengetahui seluk beluk dari pada tempat yang akan dikunjungi kan? Oke langsung saja membahas obyek wisata di kabupaten Buleleng, yuk Guys telusuri ulasan lengkapnya dibawah ini :


Daftar informasi obyek wisata di atas diharapkan bisa memepermudah saat anda berwisata ke kabupaten Buleleng. Oh iya Guys, di bawah ini masih ada tempat-tempat wisata di Bali yang tak kalah menarik untuk di eksplor hlo, yuk baca dan kulas semua informasinya di bawah ini :

13 Pantai Indah Di Pulau Bali Yang Disukai Wisatawan Indonesia



Wednesday, December 21, 2016

Desa Tua Julah Buleleng – Wisata Bali


Pada saat pembaca lagi piknik di Bali, tentunya banyak sekali obyek wisata yang di tawarkannya yang pastinya seru. Namun tak ada salahnya jika anda berwisata ke Desa Tua Julalah yang berada di kawasan Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleeng, rovinsi Bali, indonesia ini hlo. Kenapa begitu ? Karena desa ini masih memelihara warisan adat serta budaya dari ribuan tahun silam oleh leluhurnya.

Selaras dengan prasasti yang ada di Pura Balai Agung Desa Julah, bahwa Desa Tua Julalah ini sudah ada sejak tahun caka 844 atau tepatnya pada tanggal 24 Januari 923 Masehi yakni di zaman pemerintahan Sang Ratu Sri Ugrasena di Pulau Bali. Keunikan yang dimiliki Desa Tua Julalah  yang mampu menarik wisatawan untuk berkunjung ialah terletak pada sistem pemerintahan Hulu Apad ( sistem pemerintahan kuno ).

Sistem pemerintahan Hulu Apad adalah sistem pemerintahan tertingginya dikendalikan oleh dua orang Jero Kubayan dan empat orang Jero Bau. Orang-orang tersebut mengatur krama tatanan keagamaan dan adat dari krama negak dan Buwit. Dari sistem pemerintahan Desa Pekraman dan Perbekel yang mana mengatur tata pemerintahan desa adat di Desa Tua Julalah  dibentuk jauh-jauh belakangan.

Kedua sistem pemerintahan ini harus mematuhi terhadap pemerintahan Hulu Apad, meskipun didalam kedua sistem ini punya aturan tersendiri yang dibentuk oleh Negara. Oh iya, Kubayan merupakan dua tokoh sentral yang tertinggi mengatur secara otonom terkait dengan prosesi keagamaan dan adat masyarakat adat Desa Tua Julalah.

Kubayan memiliki hak atas otoritas religius magis yang sangat tinggi dan masih dipercaya oleh masyarakat Desa Tua Julalah walaupun nyatanya disaat ini adalah jaman modern. Sementara Jero Kubayan ialah pemimpin yang mengatur tatanan religius dalam menjalankan prosesi keagamaan, adat, budaya di tingkat desa dan pemimpin yang mengatur tatanan keagamaan ditingkat keluarga disebut dengan nama Balian.

Sementara posisi klian yang berada di Desa Pekraman bertugas mengatur segala ruang bagi warga ketika berinteraksi dalam proses adat diinternal warga adat julah dan berhubungan dengan dunia luar sesuai dengan tugas pemerintahan adat yang diatur oleh undang-undang. Sistem pemerintahan seperti ini merupakan  warisan nenek moyang Desa Tua Julah yang sangat sakral, sehingga sampai detik ini tidak ada yang berani merubahnya.

Dari penjelasan diatas bisa disimpulkan bahwa Desa Tua Julah tersebut mewakili beberapa desa Bali Aga yang tersebar di kabupaten Buleleng. Di lihat dari latar belakang sejarahnya, dulunya Julah adalah pusat kerajaan-kerajaan lokal berbasis desa adat yang sudah ada jauh sebelum jaman kerajaan-kerajaan besar di Bali, seperti halnya Kerajaan Udayana, Dinasti Warmadewa dan lain-lain.

Desa Tua Julah tidak mengenal adanya soroh dalam pergaulan kesehariannya, yang mana bisa dibilang dalam golongan egaliter atau menjungjung tinggi kesamarataan dan tidak mengenal kelas sosial. Salah satu ciri “egaliter” yang terlihat jelas ialah bentuk dan luas rumah yang hampir sama dengan memakai prinsip sosialisme tradisional.

Oke Guys saya kira penjelasan diatas mampu mempermudah anda saat berwisata dan mengeksplor obyek wisata Desa Tua Julah yang ada di kabupaten Buleleng. Dibawah ini masih ada banyak lagi hlo parieisata nan menyenangkan lainnya yang masih berada di Buleleng. Yuk lihat selengkapnya !!!

Desa Tua Tiga Wasa Buleleng – Obyek Wisata Terlengkap



Sunday, December 18, 2016

Pura Agung Pulaki Buleleng ( Pura Petirtan )


Hay pembaca, yuk kita esplor dan ketahui wisata apa saja yang di tawarkan Pulau Bali sampai-sampai terkenal hingga ke luar negeri. Bagi warga Indonesia yang baik seharusnya tahu apa saja sih obyek wisata yang ada di bali itu. Yak mayrotas masyarakatnya beragama Hindu, kalau masalah ini saya jamin dari kesemua pembaca sudah tahu.

Nah yang di bahas bukanlah itu, namun akan membahas tentang tempat peribadatnya hlo Guys. Selain digunakan sebagai tempat ibadah, pura disini juga dimanfaatkan sebagai tempat wisata yang tak luput dari kunjungan wisatawan. Sebagai contohnya Pura Agung Pulaki yang lokasinya berada di tepi Jalan Raya Gilimanuk - Singaraja.

Oh iya nama lain dari Pura Agung Pulaki  ialah “Pura Petirtan”, dari keunikan pura ini terlihat jelas pada ornamen batu yang berwarna hitam dan juga di ruanagn jaba tengah. Selain keunikan tersebut, keunikan lainnya terdapat pada letak pura yang menempel di kaki perbukitan. Hal ini tentunya akan menciptakan suasana serta pemandangan yang begitu ekspetakuler dan menakjubkan.

Maka tak jarang para pengunjungnya banyak yang memanfaatkan momen ini dengan berselfie ria, yang mana dilatar belakangi dengan laut dengan deburan ombaknya yang jelas terdengar. Bagi wisatawan yang berkunjung sekaligus ingin melakaukan ibadah, alangkah baiknya tutuplah sesajen yang anda bawa.

Hal tersebut dimaksutkan agar tak mengundang respons monyet-monyet yang banyak berkeliaran di kawasan Pura Agung Pulaki. Memang di tempat wisata kali ini, yah gitu Guys banyak monyet yang berkeliaran dengan bebasnya. Meskipun begitu tak usah takut hlo, karena maonyet-monyet ini tak akan menyerang selagi anda tak menggganggunya.

Oh iya , kesemua haturan kecuali Canang dan Kewangen ( sesajen ) sebelum anda melakukan sembahyang lebih baik masukkan ke dalam tempat yang dikurung dengan kawat. Pada saat anda melakukan ibadah tak usah takut akan diganggung monyet-monyet terebut, selama haturang sembah para Pemangku Penyade akan menjagamu dari gangguan monyet-monyet.

Yang perlu diperhatikan dan tak boleh diiabaikan adalah pada saat pembaca berkunjung ke Pura Agung Pulaki bersama keluarga tercinta terutama dengan anak-anak. Untuk lebih amannya pada saat berada dikawasan Pura Agung Pulaki anak-anak jangan sampai membawa makanan, hal ini tentunya akan menjadi serbuan monyet-monyet dan tentunya anda tidak menginginkan sesuatu yang tak diinginkan, harap di perhatikan ya.

Kebanyakan dari mereka yang melakukan ritual persembahyangan di sini memiliki acara khusus seperti mendak tirta dan lain sebagainya yang pastinya lebih spesifik. Selain itu tak sedikit pula wisatawan yang datang hanya seketar rekreasi menikmati semua keseruan yang di tawarkan di kawasan Pura Agung Pulaki.

Memang berpiknik ke Pulau Bali sangat menyenangkan dan menjadi tujuan sebagian besar dari pembaca. Untuk menuju ke Pura Agung Pulaki  cukup mudah, karena lokasinya berada di tepi Jalan Raya Gilimanuk - Singaraja.

Jikalau pembaca sedang melakukan perjalanan dari arah barat atau dari Gilimanuk maka anda akan melewati Pura Agung Pulaki ini. Lingkungan dari Pura Agung Pulaki adalah satu kompleks yang terdiri dari Pura Agung Pulaki sendiri dan beberapa “Pesanakannya” yakni Pura Melanting, Pura Kertha Kawat, Pura Pabean dan Pura Pemuteran.

Keseruan pariwisata yang di tawarkan Kabupaten Buleleng masih banyak lagi kok, bagi anda yang ingin mengetahui info detailnya yuk baca obyek wista di bawah ini :

Makam I Wayan Jayaprana Buleleng – Berbalut Kisah Romantis




Makam I Wayan Jayaprana Buleleng – Berbalut Kisah Romantis


Jumlah pariwisata di Pulau Balisangat beragam, bahkan di setiap sudut tempat atau suatu daerahnya berpotensi dijadikan sebagai obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Seperti halnya Makam I Wayan Jayaprana ini sudah tak asing lagi bagi kalangan umat Hindu di bali yang mana memiliki kisah cinta yang berakhir tragis.

Kisah romantisme yang melegenda di bali ini tak lain ialah I Wayan Jayaprana dengan kekasihnya yang bernama NI Layonsari. Tak hanya umat Hindu saja yang banyak berziarah, namun wisatawan dari berbagai daerahpun turut penasaran dan ingin mengunjunginya entah berziarah ataupun sekedang berwisata saja.

Makam I Wayan Jayaprana dibuatkan sebuah pura yang dibangun di ats bukit, hal ini otomatis menyuguhkan paronama pemandangan alam berupa laut Teluk Terima. Slain itu juga semilir angin yang berhembus menerpa wajah serasa segar yang didominasi dengan rindangnya pepohonan tropis nan subur menghijau pada saat melewati jalan setapak menuju makam.

Meskipun tempat ini tergolong tempat wisata, namun tak sedikit pengunjung yang datang dengan tujuan melaksanakan persembahyangan. Terlebih akan ramai jika pada saat bulan purnama, tilem ( bulan mati ) maupun hari-hari besar seperti hari Raya Galungan dan Kuningan.

Dari Makam I Wayan Jayaprana inilah ada sejarah yang melegenda dan mendarah daging di masyarakat Bali. Pada jaman dahulu ada pasangan sebuah keluarga di Desa Kalianget yang memiliki 2 anak laki-laki dan satu perempuan. Pada waktu tersebut desa tersebut diserang wabah penyakit dan empat orang keluarga tersebut meninggal, hanya tersisa 1 anak laki-laki paling bungsu.

Anak tersebut bernama I Nyoman Jayaprana, kemudian ia memberanikan diri untuk datang dan mengabdi ke istana. I Nyoman Jayaprana sangat rajin sehingga raja Kalianget sangat menyanyanginya, berjalannya waktu I Nyoman Jayaprana pun tumbuh besar. Di saat usianya 12 tahun saja, I Nyoman Jayaprana sudah terlihat parasnya yang rupawan dan senyumnya yang manis.

Pada suatu hari Sang raja mengutus I Nyoman Jayaprana untuk memilih salah satu dayang-dayang ataupun gadis di luar istana untuk dijadikan istrinya. Meskipun dia belum berniat untuk membangun rumah tangga yang dikarenakan kanak-kanak, namun I Nyoman Jayaprana tak kuasa menolak. Hingga akhirnya I Nyoman Jayapran menemukan cintanya pada seorang gadis jelita bernama Ni Layon Sari putri dari Jero Bendesa dar Banjar Sekar.

Sang rajapun menerima laporan dengan senang hati dari I Nyoman Jayaprana, kemudian Sang raja menulis sepucuk surat kepada Jero Bendesa, alhasil Jero Bendesa menyetujuinya. Acara pernihahan Jero Bendesa tepat pada hari Selasa Legi Kuningan. Pada waktu I Nyoman Jayaprana bersama istrinya menghadap raja, sang raja terdiam seribu bahasa karena terpesona dengan kecantikan Ni Layonsari.

Seusai acara pernikahan selesai, kedua pasangan pengantin itupun kembali ke rumahnya. Nah, disat itulah Sang raja langsung mengumpulkan semua abdinya meminta pertimbangan untuk memisahkan pasangan tersebut dengan tujuan Ni Layonsari bisa menjadi istrinya. Jika tidak bisa, maka Sang raja bisa dirundung kesediahan yang dalamm.

Akhirnya berbagai saran dan pertimbangan yang dirundingkan sudah disetujui, sang raja pun memberi perintah kepada I Nyoman Jayaprana untuk menyelidiki perahu yang hancur karena perompak di Celuk Terima atau Teluk Terima. Meskipun baru 7 hari menjalin keluarga yang harmonis, I Nyoman Jayaprana tidak bisa menolak untuk tidak melaksanakan perintah sang raja.

I Nyoman Jayaprana meminta ijin kepada sang istri, namun tidak disetujui karena ada firasat buruk yang hadir dalam mimpinya. Akhirnya Ni Layonsari hanya bisa pasrah dan berdoa agar suaminya selamat menjalankan perintah Sang raja. Dalam perjalanan bersama rombongan, I Nyoman Jayaprana tak henti-hentinya mendapat firasat buruk dan tahu kalau ia akan dibinasakan.

Setibanya di hutan Teluk Terima, Patih I Saunggaling memberikan surat yang berisi I Nyoman Jayaprana harus dibunuh dan istrinya menjadi milik raja. Selesai mengetahui hal itu, I Nyoman Jayaprana menangis tersedu-sedu dan dia sadar bahwa perintah raja tidak bisa di tolak. Dengan sedihnya Patih I Saunggaling menancapkan keris, namun anehnya darah I Nyoman Jayaprana keluar disertai semerbak bau harum, serta ciri-ciri di langit dan buni seperti angin topan dan gempa bumi.

Setelah itu rombongan kembali pulang dengan perasaan yang gelisah, di tengah perjalanan banyak rombongan yang meninggal karena digigit ular ataupun diterkam harimau. Hingga kabar meninggalnya I Nyoman Jayaprana sampailah ditelinga istrinya Ni Layonsari yang membuatnya sedih dan hancur perasaannya.

Merasa tidak ada gunanya hidup di dunia tanpa Sang suami yang dicintai, akhirnya Ni Layonsari bunuh diri dengan menghujamkan keris kedadanya. Kabar ini tak lama didengan oleh sang raja, hingga membutnya sedih dan pada akhirnya sang raja pun ikut bunuh diri juga.

Dengan adanya cerita tentang wafatnya I Nyoman Jayaprana ini, tak jarang ceritanya dikemas dalam paket teater drama dan juga sendratari yang dikarenakan kisahnya yang merakyat. Lokasi Makam I Wayan Jayaprana berada di kawasan hutan Teluk Terima yakni di Desa Sumber Klampok, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Provinsi bali, Indonesia.

Oh iya Guys, tempat wisata ini masih berada di kawasan Taman Nasionalbali Barat ( TNBB ) dan juga Pulau Menjangan yang sangat terkenal di kalangan wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.

NB : Bagi wisatawan yang berkunjung ke Makam I Wayan Jayaprana ada mitos yang patut anda ketahui, dimana pasanganan pengantinn pantang untuk melewati sepanjang jalan di depan Makam I Wayan Jayaprana. Jikalau terpaksa dan harus melewati tempat ini, maka pasangan tersebut disarankan agar berada pada mobil yang berbeda.

Hal ini ditujukan agar mereka ( roh  I Wayan Jayaprana) tidak merasa iri, karena tidak dipersatukan di dunia, seperti contohnya pasangan pengantin yang melintasi kawasan tersebut.

Selain obyek wisata yang sudah disebut di atas, Kawasan kabupaten Buleleng masih mempunyai obyek wisata menarik lainnya yang sayang dilewatkan hlo. Yuk baca selengkapnya dibawah ini !!!

Pura Meduwe Karang Buleleng – Wisata Bali Utara



Pura Meduwe Karang Buleleng – Wisata Bali Utara


Masih membahas banguanan pura di Kabupaten Buleleng, Bali. Tak terlalau mengherankan jikalau kawan pariwisata ini banyak di jumpai pura dengan keunika-keunikan yang berdesa di setiap bangunannya. Yuk lihat apa saja yang dimiliki Pura Meduwe Karang dan mengulas segala ketertarikan wisatawan untuk mengunjunginya.

Kata Meduwe Karang adalah bahasa bali yang berarti “memiliki lahan”, hal ini bisa dimurotkan bahwa Pura Meduwe Karang adalah Pura yang memiliki lahan yang mana tempat untuk berdoa meminta kesuburan pada tanaman. Yak, lokasi tempat wisata ini berada dii Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan yang  mana kawasan ini masih banyak didominasi dengan lahan yang bisa disebut juga tegalan.

Mayoritas masyarakat setempat menanami lahannya dengan tanaman ubi kayu, jagung, kopi, kelapa maupun jeruk. Alhasil tak sedikit para masyarakat yang menjadikan Pura Meduwe Karang sebagai tempat memohon doa agar tanamannya tumbuh dengan subur. Dalam sejarahnya, pura ini di bangun pada abad ke 19 Masehi atau tahun 1890 oleh para migrasi lokal dari Desa Bulian ( Desa Bali Kuno ) yang bermigrasi ke Desa Kubutambahan.

Kawasan daerah sekitar Pura Meduwe Karang merupakan salah satu lingkungan Pura di Bali yang sudah dikenal oleh wisatawan mancanegara sebelum terjadinya Perang Dunia Kedua . pada waktu itu, mereka datang ke Bali melalui jaut laut dan berlabuh di EX Pelabuhan Buleleng. Sembari menunggu angkutan umum, para wisatawan memanfaatkan waktu untuk berkunjung ke Pura Beji di Desa Sangsit ataupun Pura Meduwe Karang di Desa Kubutambahan.

Tata letak dan arsitektur Kata Meduwe Karang ini sangat khas dengan seni masyarakat Bali Utara ( Kabupaten Buleleng ). Gugusan tangga , areal cukup luas, ornamen-ornamen dan juga deretan patung-patungnya jarang ditemukan kesamaan pada pura-pura lain selain di Buleleng.

Bangunan Kata Meduwe Karang terbagi menjadi tiga tingkat diantaranya adalah Jaba Pura di luar lingkungan pura ( Jabaan ), Jaba Tengah , dan Jeroan ( bagian yang paling disucikan ). Dua buah tangga berbahan batu dengan konstur menanjak menuju Jaba Pura, yang mana tepat di bagian depannya dihiasi dengan patung-patung batu padas yang berjumlah 34 ( tokoh-tokoh cerita Ramayana ).

Patung yang berdiri di tengah-tengah memperlihatkan Kumbakarna yang sedang berkelah ddengan kera-kera laskar Sang Sugriwa. Daya tarik lainnya terletak pada pahatan Durga dalam manifestasinya sebagai Rangda, dalam posisi duduk dengan kedua lututnya terbuka lebar yang mana alat kelaminnya jelas terlihat.

Tangan kanannya diletakkan di atas kepala seorang anak kecil yang berdiri di sebelah lututnya, kaki kanannya diletakkan di atas binatang bertanduk dalam posisi berbaring. Pada bagian lain dari dinding lingkungan pura ini terdapat pahatan seorang penunggang kuda terbang dan pahatan Astimuka. Tokoh ini dilukiskan persis dengan Sang Hyang Gana atau Ganesha yaitu dewa bermuka gajah.

Jika pembaca memandanag Kata Meduwe Karang dari kejauhan, maka susunan batu padas dari dasar hingga puncak padmasana terlihat seperti halnya susunan bangunan pyramida. Keunikannya tak hanya itu saja hlo Guys, pada dindning sebelah utara Kata Meduwe Karang dapat dilihat ukiran setinggi 1 meter yang menggambarkan tentang seorang pegawai Pemerintah Belanda sedang mengendarai sepeda.

Usut punya usut informasi yang di dapatkan dari masyarakat setempat bahwasannya ukiran tersebut ialah hasil reproduksi dari ukiran yang dibuat pada tahun 1904 yang pernah hancur saat terjadinya gempa bumi, Dari sejarahnya bahwa pengendara sepeda itu adalah W.O.J. Nieuwenkamp ( pelukis Belanda yang terkenal ) yang berkeliling Bali dengan mengendarai sepeda di tahun 1900-an. Kemudian Ia melukis tempat-tempat yang sempat dikunjunginya.

Dalam perbaikannya bentuk dari roda sepeda tersebut diubah menjadi roda berbentuk bunga teratai, Nieuwenkamp diubah mengenakan kamen atau kain dan ditambahkan dengan pattern tumbuhan serta bunga-bunga sebagai latar belakangnya. Di antara roda sepeda diberi gambar anjing dan tikus , kumis tebal Nieuwenkamp sudah tidak ada lagi .

Untuk menuju ke Pura Meduwe Karang tentunya sangat mudah sekali yakni berada di Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten buleleng, provisi bali, Indonesia. Dari pusat kota singaraja berjarak sekitar 12 kilometer atau tidak sampai 1 kilometer dari pertigaan Singaraja, Kubutambahan, Kintamani.

Perburuan tempat wisatamu ketika berada di kabupaten Buleleng tak hanya di Pura Meduwe Karang saja hlo Guys, dibawah ini adalah obyek wisata terdekat yang bisa anda jadikan agenda wisata selanjutnya :

>>>Pura Dalem Jagaraga di Singaraja




Saturday, December 17, 2016

Pura Dalem Jagaraga di Singaraja


Saat berada di Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali serasa kurang afdhol jika tak mengunjungi Pura Jagaraga. Jika membahas bangunan pura, memang didaerah inilah pusat dari bangunan tersebut ya Guys. Dan tentunya dari setiap pura yang berdiri kokoh disini tak lepas dengan keunggulan-keunggulannya entah dari sejarah, bangunan, hiasan dan lain sebagainya.

Obyek wisata kali ini memiliki keunikan tersendiri, terlihat jelas pada arsitektur bangunan yang bisa dibilang ornametik serta banyaknya hiasan yang cukup unik dan otentik. Selain itu mempunyai nilai-nilai historis tentang perjuangan rakyat Buleleng saat melawan penjajahan. Oh iya, Pura Dalem Jagaraga masih dikategorikan sebagai salah satu dari Pura Kahyangan Tiga Jagaraga yang pada umumnya mempunyai ciri-ciri seperti halnya Pura Dalem lainnya di Bali.

Sebagai contoh Pura Dalem di Bali biasanya berciri khas berlokasi didekat kuburan, disekelilingnya berhiaskan patung dengan wajah seram dan mengerikan seperti halnya patung Betara Durga. Adapun keunikan lainnya yang mencolok, diantaranya tembok paling depan di bagian luar lingkungan pura terdapat pahatan relief yang menceritakan pertempuran pesawat terbang kuno, perampokan bersenjata, perahu, dan relif orang meminum bir.

Guys hanpir saja penulis lupa, bahwa di Pura Jagaraga juga ada patung Men Branyut yang merupakan cerita rakyat yang cukup populer. Cerita tersebut menggambarkan satu keluarga yang memiliki banyak sekali anak dan dalam kisahnya tentang suka duka orang tua dalam penuh kelucuan.
Bagi anda yng ingin merasakan sensasi wisata unik, alangkah baiknya mengunjungi Pura Jagaraga ini yang berlokasi di Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, Indonesia.

Asalkan pembaca tahu, bahwa obyek wisata ini cukup fenomenal dan tak sedikit wisatawan yang datang ke Bali untuk mengunjunginya. Lokasinya berjarak kurang lebihnya sekitar 12 km dari pusat Kota Singaraja yakni di jalur Jalan Singaraja – Kecamatan Sawan.


Masih mencari obyek wisata menarik di Kabupaten Buleleng ? Di bawah ini adalah beberapa obyek wisata yang tak kalah seru dan menarik hlo, yuk baca selengkapnya :

Pura Beji, Penuh Seni Ukiran – Ngetrip di Buleleng